✍️ CATATAN DZULQA'DAH (9)
📒 SUMBER KESENGSARAAN TERBESAR
Suatu hari, Imam Syafi'i rahimahullah pernah memberi nasihat kepada muridnya. Kata Beliau:
رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ فَالْزَمْهُ فَإِنَّهُ لَا سَبِيْلَ إِلَى رِضَاهُمْ
"Keridhaan seluruh manusia adalah tujuan yang tidak akan mungkin dicapai. Maka, teruslah perbaiki diri dan istiqamahlah berada di atasnya! Sebab kita tidak mungkin untuk membuat semua orang ridha kepada kita".
Jadi, menurut Beliau, kita tidak akan mungkin membuat semua orang suka dengan kita. Maka, lebih baik kita fokus memperbaiki diri.
🌻🌻🌻
Ya, memang demikian kenyataannya. Membuat semua orang suka dengan kita adalah suatu hal yang mustahil. Jangankan kita yang banyak kurangnya, para Nabi dan Rasul saja tetap ada yang membenci. Padahal mereka dalah manusia terbaik di muka bumi ini.
Oleh karena itu, jangan kita gantungkan kebahagiaan di mulut orang2. Lebih baik, kita fokus memperbaiki diri. Kita fokus mencari ridha Allah saja. Terserah nanti orang mau bilang apa.
Sebab, kalau orang sudah benci, apapun yang kita lakukan, sebaik apapun itu, tetap saja dianggap salah olehnya. Tapi sebaliknya, kalau orang sudah cinta, kesalahan kita pun akan dicari2 cara untuk bisa dibela.
Begitulah manusia!
Maka, benarlah perkataan Imam Syafi'i rahimahullah dalam sebuah syairnya:
وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ * وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا
"Mata yang penuh keridhaan akan buta terhadap kekurangan; akan tetapi mata yang penuh kebencian akan menampakkan segala keburukan.
🌻🌻🌻
Ada sebuah cerita menarik terkait omongan orang. Menurut saya, bagus untuk kita jadikan sebagai pelajaran.
Suatu hari, seorang laki-laki lewat di jalan raya sambil mengendarai seekor keledai, dan dia membiarkan anaknya berjalan di belakangnya. Orang-orang pun kemudian berkata: “Orang ini bukan orang yang penyayang. Dia mengendarai keledainya dan membiarkan anaknya yang masih kecil berjalan kaki”.
Laki-laki itupun mendengar apa yang dikatakan orang-orang. Kemudian dia berjalan kaki dan meminta anaknya naik keledai. Lalu dia melewati orang-orang, kemudian mereka berkata: “Anak kecil ini tidak menghormati ayahnya. Dia naik keledai dan membiarkan ayahnya berjalan kaki”.
Laki-laki itu pun mendengar apa yang orang-orang katakan, lalu dia bersama anaknya naik ke atas keledai. Dia pun kemudian melewati sekelompok orang yang lain, lalu mereka berkata: “Dua orang ini naik di atas keledai yang malang. Tidak punya rasa kasihan!”
Kemudian Si Ayah dan Si Anak berjalan kaki dan membiarkan punggung keledainya kosong. Mereka berdua berjalan di sampingnya. Kemudian mereka melewati sekelompok orang, lalu orang-orang itu berkata” “Orang ini bodoh. Dia bersama anaknya jalan kaki dan membiarkan keledai berjalan sendiri tanpa seorang pun yang mengendarainya”.
Akhirnya, berkatalah laki-laki itu kepada anaknya: “Wahai anakku, omongan orang tidak akan ada habisnya, meskipun keledai ini kita angkat dengan tangan kita!”.
🌻🌻🌻
Jadi, kita lakukan saja apa yang sudah menjadi prinsip hidup kita (berdasarkan ilmu yang benar tentunya). Kita cari keridha’an Allah saja. Jangan terlalu memikirkan komentar orang-orang.
Omongan orang cukup kita dengarkan saja. Kalau baik, kita ambil sebagai bahan pertimbangan dalam bertindak. Jika tidak, maka kita abaikan saja.
Anggap saja angin lalu!
🌻🌻🌻
Intinya, kalau kita mau bahagia, cari saja keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jangan pusingkan dengan omongan orang.
Sebab, diantara sumber kesengsaraan terbesar dalam hidup adalah terlalu mikirin apa kata orang.
Ituh!
✍️Bogor, Ahad bada Zuhur 8 Dzulqa'dah 1447H/26 April 2026
@MuhammadMujianto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar