✍️ CATATAN DZULQA'DAH (4)
MENCEKAM😱
Beberapa kali saya mendapat cerita tentang orang2 yang diuji dengan isi omongannya. Termasuk juga yang diuji dengan isi tulisannya.
Pernah ada seorang ustadz cerita. Katanya, suatu hari dia ceramah tentang kesabaran. Dia menasihati orang untuk sabar saat ditimpa musibah. Tapi tidak lama kemudian, si ustadz ini malah dapat musibah. Motornya malah kemalingan.
Pernah juga saya dapat cerita suami istri yang menulis buku tentang keluarga. Lewat bukunya, mereka memberi tips agar keluarga bisa harmonis.
Tapi, apa yang terjadi kemudian?
Mereka berdua malah bercerai.
Jadi memang benar kata orang. Kita harus siap diuji dengan apa yang kita nasihatkan ke orang lain.
🌻🌻🌻
Kemarin, saya mendapatkan ujian terkait apa yang pernah saya sampaikan kepada orang2.
Cerita lengkapnya begini..
Kemarin siang, saya berencana untuk pulang ke Bogor dari rumah mertua di Bekasi. Awalnya, mau pulang sekitar jam setengah 3. Tapi, ketika hendak naik motor, ternyata ban belakang motor kempes. Dugaan kuatnya sih bocor. Sebab, baru kemarin sore dipompa.
Akhirnya, saya harus tambal ban dulu. Alhamdulillah, ada tukang tambal ban dekat rumah mertua.
Karena yang bocor ban dalam, maka pengerjaannya cukup lama. Beda dengan ban tubeless yang lebih cepat kalau harus ditambal.
Sambil menunggu proses tambal ban, saya buat sebuah tulisan di HP. Rencanannya untuk Serial Catatan Dzulqa'dah.
Saya buat judul sementaranya "BELAJAR DARI BUAH PARE". Isinya tentang kiat untuk menerima takdir buruk. Saya jelaskan tentang bagaimana caranya agar kira bisa menerima takdir buruk dengan lapang dada, meskipun pahit terasa.
Materi ini sebenarnya pernah beberapa kali saya bahas di tulisan2 saya sebelumnya. Bahkan pernah juga saya sampaikan ke teman2 saya di majelis bahasa Arab yang saya bimbing. Tapi, saya ingin membahasnya lagi. Sebab, menurut saya, materi ini sangat penting untuk dibahas dan dipahami.
Alhamdulillah, tulisan jadi sekitar 80%. Karena proses tambal ban sudah selesai, maka tulisan saya tunda dulu. Rencananya akan saya selesaikan saat tiba di Bogor.
Tulisannya bisa dibaca di https://kitabfahimna.blogspot.com/2026/04/catatan-dzulqadah-3-belajar-dari-buah.html?m=1
🌻🌻🌻
Sekitar jam setengah empat sore, saya pun berangkat. Berdua dengan istri.
Tujuan pertama adalah ke Stasiun Cikarang. Saya turunkan istri di situ. Jadi, istri naik kereta ke Bogor. Nanti, kami ketemuan lagi di Stasiun Bogor.
Dari stasiun Bogor, saya melaju menuju arah Cileungsi. Lewat jalur STTD Setu Bekasi.
Qadarullah, saat mendekati MetLand Bekasi, ban bekakang motor kempes parah. Akhirnya, saya harus mendorongnya ke bengkel.
Alhamdulillah, tidak jauh dari tempat kejadian, ada sebuah bengkel motor. Setelah dicek, ternyata ban dalamnya robek. Ada dua buah kawat kecil yang masih menancap di ban luar motor.
Akhirnya, ban dalam harus diganti. Tidak lama kemudian, semuanya beres. Motor bisa dibawa melaju kembali. Alhamdulillah.
Waktu di bengkel, saya lihat jam menunjukan waktu sekitar pukul 5 sore. Berarti sekitar satu jam lagi Maghrib. Target saya, bisa shalat Maghrib di pom bensin tempat saya biasa mampir kalau pulang dari Bekasi menuju Bogor.
🌻🌻🌻
Sore itu langit masih cerah. Tidak ada tanda2 akan turun hujan.
Saat saya lihat jarum indikator bensin sudah mendekati garis merah, akhirnya saya putuskan cari pom bensin. Lokasinya mendekati Gunung Putri Bogor.
Setelah isi bensin, saya lanjutkan perjalanan.
Mendekati daerah Citeureup, langit mulai gelap. Gerimis mulai turun. Waktu itu belum terdengar azan Maghrib.
Karena hanya gerimis kecil, saya putuskan untuk tidak memakai jas hujan. Sambil saya berusaha cari2 masjid besar yang ada di pinggir jalan.
Sampai di Cibinong, hujan semakin deras. Saya pun menepi untuk memaki jas hujan.
Langit tambah gelap. Petir menyambar2. Hujan semakin besar.
Tapi, saya putuskan untuk terus melanjutkan perjalanan. Saya berharap, mendekati kota Bogor, hujannya reda.
Ternyata, hujan tak kunjung reda. Malah semakin besar. Petir masih terus menyambar2.
Air hujan merembes membasahi pakaian saya. Semuanya basah. Sehingga sepertinya tidak mungkin untuk berhenti di masjid atau mushollah. Saya niat untuk menjamak shalat Maghrib dan Isya nanti saat sampai di rumah.
Situasi semakin mencekam. Jalan yang saya lewati banyak tergenang air. Sesekali mobil melaju kencang di sebelah saya. Cipratan air dari ban mobil mengenai motor dan tubuh saya.
Waktu itu, sempat muncul kekhawatiran motor mogok. Tidak kebayang kalau harus dorong motor di tengah hujan deras.
Gelap masih terus menyelimuti perjalanan. Hujan terus mengguyur tanpa henti. Mau berhenti sepertinya tidak mungkin.
Pandangan mata saya pun agak terganggu. Sebab, kaca mata sudah basah. Saya tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Sehingga saya hanya bisa melaju pelan. Sesekali saja agak saya tambah kecepatan.
Ketika itu, saya teringat dengan tulisan yang tadi siang saya buat.
"Apa ini ujiannya ya?" ucap saya dalam hati.
Saya coba manfaatkan waktu untuk banyak2 berdoa. Doa apa saja yang berisi kebaikan. Sebab setahu saya, berdoa saat turun hujan itu mustajab.
Saya sudah pasrahkan semuanya pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terserah Allah mau berbuat apa kepada saya waktu itu. Saya siap.
Saya terus minta doa keselamatan. Saya juga juga panjatkan doa2 kebaikan lainnya.
🌻🌻🌻
Mendekati arah Stasiun Bogor, hujan tak kunjung reda. Saat tadi saya berhenti untuk memakai jas hujan, saya sempat buka HP. Dapat kabar dari istri, di tempat saya tinggal sedang hujan deras. Petir menyambar2.
🌻🌻🌻
Tidak jauh dari Stasiun Bogor, saya cari tempat menepi. Saya cek HP. Istri ngajak untuk pulang. Sudah terlanjur basah2an, katanya.
Singkat cerita, akhirnya saya bisa sampai di rumah dengan selamat.
Alhamdulillah...
Tak henti2nya saya mengucap syukur.
Alhamdulillah, ban motor bocor saat belum turun hujan..
Alhamdulillah, bensin sudah terisi sebelum menerobos hujan..
Alhamdulillah, motor tidak mogok saat melewati genangan air..
Alhamdulillah, bisa selamat sampai tujuan.
🌻🌻🌻
Jadi inti yang ingin sampaikan itu begini:
Memberi nasihat kebaikan itu berpahala besar. Bahkan berpotensi jadi amal jariyah.
Tapi, kita juga harus siap dengan ujian terkait dengan apa yang kita sampaikan.
Ituh!
Wallahu a'lam.
✍️ Bogor, Senin sore 2 Dzulqa'dah 1447H/20 April 2026
@MuhammadMujianto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar