Minggu, 26 April 2026

CATATAN DZULQA'DAH 10: USTADZ A DAN SI B

 


✍️ CATATAN DZULQA'DAH (10)


📒 USTADZ A DAN SI B


Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan. Menarik menurut saya. Tentang guru dan murid. 


Inti tulisan itu, hendaknya murid "tahu diri" dan guru "jaga diri". Maksudnya, hendaknya murid tahu diri dengan cara memuliakan gurunya, dan guru jaga diri agar tetap ikhlas dalam mengajar.


Tulisan itu saya lampirkan di akhir. Silakan nanti dibaca. Tapi kalau penasaran, silakan langsung baca di bawah 😁


🌻🌻🌻


Saya juga punya cerita yang mirip2. Tentang seorang guru dan murid. Sebut saja Ustadz A dan Si B. 


Ustadz A biasanya mengajarkan ilmunya di masjid. Gratis. Dia tidak meminta bayaran. Kalaupun dapat amplop setelah mengajar,  kadang uangnya disedekahkan lagi ke orang. Tidak dia ambil untuk untuk kepentingan pribadi.


Diantara murid Ustadz A adalah Si B. Setiap memasuki bulan Ramadhan atau Idul Fithri, Si B biasa memberikan bingkisan kepada Ustadz A. Biasanya sembako. Cukup banyak. Berbagai kebutuhan pokok ada di dalamnya, seperti: beras, minyak, terigu, dll.


Tidak hanya itu. Si B juga sigap memberi bantuan ketika mendapat kabar bahwa Ustadz A sedang butuh bantuan. Tidak harus menunggu diminta.


Tapi, oleh Ustadz A, semua kiriman dari Si B tidak pernah dia ambil. Selalu dia berikan lagi ke orang yang menurutnya lebih membutuhkan. 


🌻🌻🌻


Dari kisah Ustadz A dan Si B, kita bisa mengambil pelajaran:


💦Hendaknya guru sebisa mungkin untuk menjaga keikhlasan dalam mengajarkan ilmunya. Jangan berharap balasan materi dari murid2nya. Apalagi sampai memanfaatkan muridnya untuk mencari kekayaan.


💦Terkadang seorang ustadz menerima amplop atau hadiah bukan diambil untuk dirinya. Tapi, untuk diberikan lagi kepada orang lain yang menurutnya lebih membutuhkan. Bisa jadi uangnya digunakan untuk membiayai pondok pesantren yang dia punya. Bisa saja begitu.


💦Hendaknya seorang murid juga punya perhatian terhadap gurunya. Jangan sampai kita hanya mau mengambil ilmunya, tapi kita tidak ada sama sekali pikiran untuk mensejahterakanya.


 Ingat! 


Guru kita sudah mau untuk meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk kita.


Lalu, apa yang sudah kita berikan untuknya???!!!


Paling tidak, kita selalu mendoakan kebaikan untuknya di waktu2 yang mustajab.


🌻🌻🌻


Dulu, almarhum guru ngaji saya pernah memberi nasihat kepada murid2nya agar terbiasa menawarkan bantuan ke guru:


"Ustadz, apa yang bisa saya bantu?" kata beliau memberi contoh.


Waktu itu, bukan karena Beliau minta dikasihani. Tidak sama sekali.


Bahkan yang saya tahu, Beliau yang malah sering memberi bantuan ke murid2nya. Beliau ngisi pengajian pun gratis. Beliau tidak mau dibayar. Terkadang, malahan beliau yang menyunbang uang jutaan rupiah ke panitia pengajian.


Tapi, Beliau ingin mengajarkan kepada murid agar memperhatikan adab kepada guru. Jangan sampai kita enak2an menerima ilmu, tapi kita  lalai dari memperhatikan kondisi guru.


Jadi..


Hendaknya guru dan murid paham dengan posisi masing2 demi mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Murid bisa tahu diri, sedangkan guru bisa menahan diri.


Demikian.


Wallahu a'lam.



✍️Bogor, Ahad menjelang Ashar 8 Dzulqa'dah 1447H/26 April 2026

@MuhammadMujianto



🌻🌻🌻

👇LAMPIRAN👇

Murid ‘Tahu Diri’, Guru ‘Jaga Diri’


Syekh Hamzah Yusuf, seorang da’i terkenal di Amerika menceritakan pengalamannya belajar di Syinqith Mauritania. Ia berkata: “Ketika datang pertama kali ke Mahdharah Tuwaimirat, saya membawa sejumlah uang yang saya serahkan pada Syekh Walad Fahaf selaku guru besar di Mahdharah. Ia menerima uang itu lalu meletakkannya di sebuah kotak.


Beberapa tahun berlalu. Sebelum pulang ke Amerika, saya minta izin pada Syekh Fahaf. Ia membuka kotak besi itu dan menyerahkan kembali uang yang saya berikan beberapa tahun silam. Utuh. Lalu ia berkata: “Ananda, ini uangmu, ambillah kembali… Kami tidak menerima apapun sebagai upah mengajarkan ilmu…”. 


*** 


Alangkah indahnya kisah ini. Seorang murid yang tahu diri dan bermaksud memuliakan guru dengan apa yang ia miliki dan guru yang menjaga diri serta lebih memilih iffah daripada harta.


Ini tidak tentang halal atau haram menerima upah dari mengajarkan al-Quran. Tidak juga tentang wajib atau tidaknya seorang murid atau wali murid memberikan kompensasi terhadap jasa guru yang mengajarkan ia (atau anaknya) al-Quran dan ilmu-ilmu syariat secara umum. 


Ini tentang masing-masing pihak tahu hak dan kewajiban. Murid atau walinya tahu apa kewajibannya untuk memuliakan guru. Guru pun tahu kewajibannya untuk mengajarkan ilmu dengan ikhlas.


Kalau murid (atau orang tuanya) hanya tahu hak tanpa mengerti kewajiban, tentu yang muncul hanya tuntutan dan tuntutan. Demikian juga guru yang hanya bicara hak tanpa berusaha menunaikan kewajiban secara maksimal tentu akan selalu merasa kurang dan kurang.


Ketika murid tahu diri dan guru menjaga diri, maka yang muncul adalah murid merasa berhutang budi dan akan mendoakan sang guru kapan pun dan dimana pun. Demikian juga dengan guru. Ia akan menyayangi murid secara tulus, tanpa embel apapun. Jiwanya juga terasa lapang tanpa merasa ‘diupah’ oleh murid atau orang tuanya.


Dalam kitab al-Mawahib al-Ladunniyyah, Imam al-Baijuri menukil sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra:


“Manusia terbaik di muka bumi adalah para guru. Berkat mereka, agama selalu baru. Beri mereka dan jangan pekerjakan mereka (jadi orang upahan). Sesungguhnya ketika seorang guru mengajarkan seorang anak bismillahirrahmanirrahim, Allah akan tulis bara`ah (kebebasan) untuk si anak, bara`ah untuk si guru dan bara`ah untuk orang tua dari api neraka.”


(Sayangnya, Syekh Muhammad ‘Awwamah sebagai muhaqqiq kitab tidak mentakhrij hadits yang ditulis Imam Baijuri ini. Ia hanya berkomentar, “Hadits ini perlu diteliti lagi karena sinyal maudhu’-nya kentara.”)


Semoga dunia pendidikan kita semakin baik dan menggembirakan dari waktu ke waktu, Amiin.


[YJ]


#COPAS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar