✍️ CATATAN DZULQA'DAH (3)
💦BELAJAR DARI BUAH PARE
Kalau dari sudut pandang kita sebagai manusia, takdir itu ada dua macam: takdir baik dan takdir buruk.
Takdir baik adalah ketetapan Allah yang sesuai keinginan kita. Misalnya saja: diberi sehat, kekayaan, dll. Sedangkan takdir buruk itu kebalikannya.
Umumnya orang, kalau diberi takdir baik dia bisa terima. Tapi, kalau diberi takdir buruk, banyak yang tidak bisa menerima. Banyak yang mengeluh.
Padahal mestinya, kalau kita mengaku beriman, kita harus ridha dengan takdir Allah, baik maupun buruk.
Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa ridha dengan takdir buruk yang menimpa kita?
Begini..
Kita bisa belajar dari buah pare.
Maksudnya?
Kita semua tentu tahu bahwa buah pare itu rasanya pahit. Nah, harusnya kan orang tidak suka dengan pare.
Tapi anehnya, banyak juga orang yang suka dengan pare. Termasuk saya 😁
Sebenarnya awalnya, saya tidak suka pare. Tapi, setelah saya tahu manfaat pare, saya sekarang jadi suka pare.
Setelah saya terkena diabetes, saya coba cari tahu cara menurunkan kadar gula darah dengan cepat. Kemudian saya dapat informasi bahwa pare bisa menurunkan kadar gula darah dengan cepat. Dan ternyata betul. Saya sudah mencobanya sendiri.
Setelah itu, saya jadi suka pare. Sebab, pare sangat bermanfaat untuk hidup saya.
Naah..
Takdir buruk juga begitu. Memang pahit terasa. Tapi, kalau kita tahu manfaatnya, insya Allah, kita nanti akan terdorong untuk menyukainya. Minimal, kita sabar dalam menerimanya.
Misalnya saja sakit. Tentu saja, kita semua tidak suka kalau diberi sakit.
Tapi ternyata, sakit itu bisa menghasilkan pahala yang besar. Tentunya kalau kita ridha dan sabar dalam menerimanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَا يَمْرَضُ مُؤْمِنٌ وَلاَ مُؤْمِنَةٌ وَلاَ مُسْلِمٌ وَلاَمُسْلِمَةٌ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِذلِكَ خَطَايَاهُ كَمَا تَنْحَطُّ الْوَرَقَةُ مِنَ الشَّجَرِ
“Tidaklah seorang Mukmin Mukminah sakit, dan tidak pula seorang Muslim dan Muslimah sakit, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan sakitnya itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon.” (HR. Ahmad)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةٌ فَما فَوْقَهَا إِلاَّ كُتِبَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌُ وَمُحِيَتْ عَنْهُ بهَا خَطِيْئَةٌ
“Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri, atau yang lebih dari itu, melainkan akan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan” (HR. Muslim)
Dengan mengetahui manfaat dari sakit, kita tentu akan lebih bisa berdamai dengannya.
🌻🌻🌻
Kemudian, kita kembali ke pare lagi.
Sebagian orang, suka makan pare karena diolah menjadi makanan yang dia suka. Misalnya, digunakan untuk campuran makan somay. Atau, dicampur dengan ikan teri.
Naah..
Takdir buruk juga begitu. Agar bisa kita nikmati, coba kita olah agar menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Misalnya, ketika kita sakit, kita jadikan kesempatan itu untuk waktu istirahat. Kita jadikan waktu untuk bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarga. Kita jadikan waktu untuk merenung. Dll.
Saya pernah dapat cerita, ada orang yang bisa hafal al-Qur'an saat diberi sakit. Sambil menjalani perawatan, dia sambil menghafal ayat2 al-Qur'an.
🌻🌻🌻
Jadi kesimpulannya, dalam menghadapi takdir buruk, kita bisa melakukan dua hal:
💦Mencari tahu pahala besar yang akan kita dapat jika ridha dan mau bersabar.
💦Mencari cara agar takdir buruk bisa dijalani dengan menyenangkan dan berbuah manfaat.
Insya Allah, dengan begitu, rasa sakitnya akan jauh berkurang.
Demikian.
Wallahu a'lam.
✍️ Bekasi & Bogor, 1&2 Dzulqa'dah 1447H/April 2026
@MuhammadMujianto
Dapatkan buku Balaghah di sini: https://id.shp.ee/TeXaH9BX

Tidak ada komentar:
Posting Komentar