✍️ CATATAN SYAWWAL (4)
💦PERJALANAN
Kemarin bada Subuh, saya melakukan perjalanan pulang kampung yang ke-2. Sebelumnya (hari ke-25 Ramadhan), saya pulang kampung ke rumah orang tua di Jakarta. Kemarin (hari ke-2 lebaran), saya pulang kampung ke rumah mertua di Bekasi.
Seperti biasa, jalanan tidak seramai hari biasa. Bahkan bisa dibilang sepi. Jakarta yang biasanya terkenal dengan kemacetannya, saat lebaran jadi sepi.
Tentu beda antara berkendaraan saat macet dan saat jalan sepi. Kalau jalan lagi macet, laju kendaraan seringnya diperlambat. Kalau sepi, laju kendaraan bisa dipercepat. Bahkan bisa ngebut 🚀🚀🚀
🌻🌻🌻
🌹MEMETIK PELAJARAN
Dalam menjalani kehidupan, kita juga biasa mengalami dua hal ini. Kadang kita dalam keadaan enak menjalani hidup (badan sehat, kondisi ekonomi bagus, dll.).
Namun, kadang sebaliknya. Kita mengalami kondisi tidak nyaman (sedang sakit, ekonomi kurang, hutang belum terbayar, dll.)
Naah..
Harusnya, ketika kita sedang mengalami kondisi enak untuk beribadah, kita perbanyak melakukan ketaatan. Shalatnya, baca al-Qur'annya, doa dan zikirnya, sedekahnya, dll. Supaya kita mendapatkan pahala melimpah.
Supaya nanti, kalau kondisi kita lagi tidak enak berbuat taat, kita masih bisa dapat pahala. Sebab dalam hadits dikatakan bahwa orang yang sudah biasa berbuat taat saat sehat, kemudian ketaatannya berkurang saat sakit, dia tetap mendapatkan pahala seperti keadaannya saat sehat.
Kok bisa❓
Sebab, dia sudah terbiasa berbuat taat saat sehat. Kalau tidak sakit, dia tentu akan berbuat taat seperti biasa. Hanya saja sakit menghalanginya untuk melakukan amalan rutin seperti biasa.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
إذا مرضَ العبدُ أو سافرَ كتبَ لَهُ من العملِ ما كانَ يعملُهُ وَهوَ صحيحٌ مقيمٌ
“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan mukim (tidak safar).” (HR. Al-Bukhari)
🌻🌻🌻
TETAPLAH DI ATAS KETAATAN❗
Dalam hidup, ada saatnya kita semangat untuk berbuat taat. Namun, ada masanya kita berkurang semangatnya.
Terus terang, saya pribadi sering mengalami hal ini. Saat Ramadhan, dalam sehari kadang bisa membaca lebih dari 3 juz al-Qur'an dan shalat malam lebih dari 23 raka'at.
Tapi, di luar Ramadhan (apalagi di awal2 lebaran), ketaatan bisa jauh berkurang.
Namun, kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, ini adalah hal yang manusiawi. Begitulah tabiat manusia. Imannya bisa naik dan bisa turun. Kadang semangat, kadang malas.
Yang penting, dia tetap berada di atas ketaatan (petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam), tidak menyimpang. Meskipun ketaatannya itu jauh lebih sedikit dari biasanya.
Sehingga apapun kondisinya, dia tetap berada di atas jalan keselamatan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ عملٍ شِرَّةً ، ولِكُلِّ شِرَّةٍ فترةٌ ، فمنْ كان فترتُهُ إلى سنتي فقدِ اهتدى ، ومَنْ كانَتْ إِلى غيرِ ذَلِكَ فقدْ هَلَكَ
"Sesungguhnya setiap amal ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa malasnya. Siapa yang saat malasnyanya menuju sunnahku, dia mendapat petunjuk, dan siapa yang saat malasnya menuju selain itu, dia binasa." (HR. Ahmad)
Demikian.
Wallahu a'lam.
Selamat melanjutkan lebarannya🌹
✍️Sukakarya Bekasi, bada Subuh 3 Syawwal 1447H/23 Maret 2026
@MuhammadMujianto
Baca tulisan lainnya di http://kitabfahimna.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar