✍️ Catatan Akhir Pekan
🌹MENIKMATI UJIAN
Kemarin, istri saya cerita. Sambil makan siang, dia ceritakan obrolannya bersama sepupunya di kampung pekan lalu. Terkait ujian hidup.
Salah seorang sepupunya belum lama ini dapat ujian. Suaminya meninggal. Padahal usianya masih terbilang muda. Cuma satu tahun di bawah saya.
Sebelum ujian ini datang, hidup mereka bisa dibilang enak2 saja. Bahkan ada yang menilai seakan tidak ada ujian hidupnya.
Sepupu istri saya itu dapat suami seorang ustadz (hafal al-Qur'an pula dan imam masjid), punya rumah nyaman, ekonomi cukup, dan mereka dikaruniai sepasang anak (laki dan perempuan) yang sehat2. Mereka juga tinggal di lingkungan pondok pesantren yang tenang.
Namun, qadarullaah, ujian tiba2 datang. Suaminya meninggal dunia.
Waktu itu, saya hanya merespon sekenanya. Saya bilang bahwa kita sebisa mungkin menikmati musibah yang kita sedang jalani. Supaya tidak stres.
Saya kasih contoh ujian yang saat ini sedang saya (dan istri) alami. Kami sudah menikah belasan tahun. Namun, qadarullah, belum juga dikarunai anak. Tentu ini adalah sebuah ujian bagi kami.
Namun, saya pribadi, mencoba untuk menikmati ujian ini. Saya berusaha untuk berfikir positif. Saya anggap ujian ini sebagai kesempatan untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.
Saya jadi lebih banyak waktu untuk belajar, baca2 buku yang bermanfaat, mengajar, menghadiri kajian, menghafal al-Qur'an, menghafal hadits, dll. Waktunya jadi lebih longgar karena belum tersibukan dengan mengurus anak.
Nah...
Kali ini, saya ingin lebih dalam berbicara tentang musibah...
Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.
Sekalian untuk menghibur diri saya 😁
💦KITA PASTI DIUJI
Selagi kita masih hidup di dunia, pasti kita akan diuji. Tidak mungkin tidak. Sebab, ini sudah sunatullah.
Para Nabi dan Rasul saja, manusia terbaik di muka bumi ini, mereka semua mendapat ujian. Bahkan, ujian mereka jauh lebih berat dari ujian yang kita terima
Jadi, kita harus siap menerima kenyataan ini. Kita harus siap jika ujian itu tiba2 datang.
Apa saja persiapannya?
💦HUSNUZHON KEPADA ALLAH
Kita harus baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita anggap ujian itu sebagai bukti cinta Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302)
Kemudian, kita anggap ujian itu sebagai kesempatan bagi kita untuk meraih pahala besar dan meninggikan derajat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
“Tidaklah seorang mukmin terkena duri bahkan yabg lebih berat dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya. Atau dihapuskan kesalahannya dengan sebab ujian itu.” (HR. Al-Bukhari: 5641 dan Muslim: 2573)
Jadi, saat mendapat ujian, kita harus berfikir positif. Supaya hidup kita jadi lebih tenang. Bisa jadi, itu adalah jalan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala agar kita mudah untuk meraih Surga.
💦BERSABAR
Agar kita mendapatkan pahala besar dari ujian yang kita jalani, maka kita harus bersabar. Tidak berkeluh kesah apalagi sampai marah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala disertai dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha, maka Dia akan ridha; dan siapa yang murka, maka Dia juga akan murka”. (HR. At-Tirmidzi: 2396)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan“. (QS. An-Nahl [16]:96)
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. (QS. Az-Zumar [39]:10)
Jadi, ketika kita mendapat ujian, untuk meraih pahala besar, kita harus bersabar.
*****
Bersedih boleh saja. Menangis pun boleh. Ini adalah hal yang wajar. Bahkan hal ini terjadi juga pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Saat beliau kehilangan putranya yang bernama Ibrahim, beliau bersedih dan menangis. Kedua mata beliau berlinang air mata. Lalu ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata kepada beliau, “Mengapa Anda menangis, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ
“Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang).”
Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda:
إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan, kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih.” (HR. Bukhari: 1303 dan Muslim: 2315)
💦BERSYKUR
Agar kita mendapatkan pahala berlimpah, saat mendapatkan ujian, selain bersabar, kita juga bisa menghadapinya dengan bersyukur.
Bagaimana caranya?
Kita bandingkan ujian kita dengan orang2 yang mendapat ujian jauh lebih berat dari kita.
Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang-orang yang di bawah kalian (lebih susah), dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari: 6490 dan Muslim: 2963)
Kalau kita coba lihat kehidupan orang lain, niscaya akan kita dapati orang2 yang jauh lebih berat ujiannya dari kita. Kalau misalnya sekarang kita kehilangan anak, di sana ada orang yang kehilangan semuanya: suami/istri, ayah, ibu, anak, rumah, dll. Kita tentu masih ingat musibah tsunami yang melanda Aceh sekian tahun silam. Atau, musibah lainnya di negeri kita dan di dunia pada umumnya. Banyak yang kehilangan segalanya. Keluarga, tempat tinggal, dll.
Dengan begitu, kita masih bisa bersyukur dengan ujian yang kita hadapi.
Alhamdulillah, kita masih diberi kesehatan, masih diberi tempat tinggal, masih diberi saudara2 yang baik, dan masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup dan memperbanyak bekal menuju kampung akhirat.
Insya Allah, dengan bersyukur, pahala besar dan kenikmatan hidup akan datang menghampiri kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim [14]:7)
💦MENATAP MASA DEPAN
Hidup kita di dunia ini sangat singkat. Maka, sangat disayangkan kalau kita harus melewatinya dengan kesedihan dan duka cita.
Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Kita ambil pelajarannya, kemudian kita lupakan.
Sekarang, kita hadapi hidup hari ini dengan sebaik mungkin. Kita gunakan kesempatan yang masih diberi ini untuk mempersiapkan bekal menuju kampung akhirat.
Semoga kita semua dikumpulkan kembali di Surga bersama orang2 yang kita cintai.
Amiin..
✍️ Perumahan Bukit Asri Ciomas Bogor, Ahad Sore Ba'da Ashar 24 Agustus 2025
@MuhammadMujianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar