Sabtu, 23 Agustus 2025

BISA JADI...

 ✍️ Catatan Akhir Pekan


📒BISA JADI...


Beberapa waktu lalu, saya mendengarkan sebuah cerita lewat video di YouTube. Cerita tentang seorang suami yang diberi ujian berupa sakit yang diderita oleh istrinya.


Kurang lebih, begini ceritanya..


Ada seorang suami yang istrinya sulit tidur. Sekian hari lamanya. Sang istri saat itu sedang hamil tujuh bulan.


Akhirnya, dibawalah sang istri ke dokter untuk dirawat. Rumah sakit pertama tidak berhasil mengidentifikasi penyakitnya. Begitupun di rumah sakit kedua. Akhirnya, sang istri dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di luar kota, di Jakarta.


Saat berada di rumah sakit Jakarta, istrinya langsung masuk ruang ICU. Namun, di rumah sakit ini pun penyakit sang istri belum juga diketahui. Dokter sudah berusaha mencari2 info ke rumah sakit lain, namun sumber penyakit belum juga ditemukan. Padahal biaya yang dikeluarkan sudah sangat banyak. Sudah puluhan bahkan mungkin sampai melebihi seratus juta. 


Kemudian, dokter minta izin untuk memberikan obat berupa suntikan yang sekali suntik biayanya Rp. 12 juta. Sehari harus tiga kali suntik. Berarti, sehari butuh biaya Rp.36 juta.


Sang suami pun merasa keberatan. Sebab memang, saat itu dia sedang diuji juga berupa kebangkrutan usaha.


Diapun minta izin ke dokter untuk menunda pengobatan ini. Dia ingin berdoa dulu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 


Dia cari musholla, lalu bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia minta kesembuhan untuk istrinya. Dia juga minta diberi petunjuk tentang perbuatan dosa apa yang telah dia perbuat hingga diberi ujian seberat ini.


Kemudian, dia teringat kejadian sekian tahun lalu. Dia ingat dulu waktu masih SD, pernah mencuri uang ibunya. Padahal, uang itu akan digunakan oleh ibunya untuk membayar hutang.


Akibatnya, Sang Ibu dicaci maki dan dipermalukan oleh orang yang yang telah meminjami uang. Hatinya masih sakit sampai saat itu.


Lalu, sang suami ini berinisiatif untuk menelpon ibunya. Dia ceritakan kejadian sekian tahun silam sambil dia minta maaf.


Ibunya pun memberi maaf sekaligus mendoakan kesembuhan untuk istri anaknya ini (menantunya). 


Ajaibnya, setelah kejadian ini, sang suami dapat kabar gembira. Dokter akhirnya bisa menemukan sumber penyakit istrinya sehingga tidak perlu diberi obat suntik yang harganya mahal itu.


[SELESAI CERITA]


🌻🌻🌻


Setelah mendengar cerita ini, saya jadi teringat dengan hadits Nabi:


كلُّ ذنوبٍ يؤخِرُ اللهُ منها ما شاءَ إلى يومِ القيامةِ إلَّا البَغيَ وعقوقَ الوالدَينِ، أو قطيعةَ الرَّحمِ، يُعجِلُ لصاحبِها في الدُّنيا قبلَ المَوتِ


Setiap dosa-dosa, Allah Ta’ala akan tunda (balasannya), sebagaimana yang Dia kehendaki dari dosa-dosa itu hingga hari kiamat. Kecuali perbuatan zalim,  durhaka kepada kedua orang tua dan memutuskan tali silaturahim, Allah akan menyegerakan (balasan) bagi pelakunya saat hidup di dunia sebelum wafat.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al Mufrad: 591)


Jadi, perbuatan zalim termasuk dosa yang balasannya akan disegerakan di dunia, sebelum nanti akan dibalas juga di akhirat.


Diantara bentuk perbuatan zalim adalah: mencuri, merampas, menindas, menyakiti orang, dll.


🌻🌻🌻


Balasan dosa zalim ini kadang tidak langsung. Kadang sekian puluh tahun baru dibalas. 


Yang jelas, jika pelaku perbuatan zalim ini belum bertaubat dengan benar, maka dia harus bersiap2 menerima balasan dari kezaliman yang dia lakukan saat masih di dunia.


🌻🌻🌻


💦SEGERA BERTAUBAT

Oleh karena itu, jika selama hidup ini kita pernah berbuat zalim, maka kita harus segera bertaubat, sebelum terlambat.


Bagaimana cara taubatnya❓


Dalam Kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi rahimahullah berkata:


"Para ulama berkata: 'Taubat itu wajib dari setiap dosa. Apabila maksiat itu antara hamba dan Allah ta'ala, tidak berhubungan dengan hak manusia, maka taubatnya memiliki syarat:


1. Meninggalkan maksiat

2. Menyesal atas perbuatan maksiat yang telah dilakukannya

3. Bertekad untuk tidak kembali kepada maksiat itu semuanya


Apabila salah satu dari tiga syarat ini tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah.


Dan apabila maksiat itu tadi berhubungan dengan manusia, maka syarat taubatnya ada empat yaitu tiga syarat di atas, ditambah dengan satu syarat; membebaskan diri dari hak orang lain. Apabila hak itu berupa harta atau sejenisnya, maka wajib mengembalikan kepadanya..." (Riyadhus Shalihin Bab Taubat)


🌻🌻🌻


Naah..


Sekarang, coba kita ingat kembali perbuatan kita di masa lalu. Mungkin ada diantara kita yang dulu pernah...


❌Minjam buku teman,  tapi belum mengembalikan

❌Naik bis kota,  tapi belum bayar

❌Beli gorengan 4, tapi bayarnya cuma 2

❌Jajan di kantin, tapi belum bayar

❌Merusak barang orang, tapi belum ganti


Dll.


Segera kita taubat kepada Allah Subbhanahu wa Ta'ala. Kemudian, kita minta maaf kepada orang yang hartanya dulu kita ambil. Kemudian kita kembalikan.


Jika orangnya sudah tidak ada, maka kita berikan kepada ahli warisnya. Kalau ahli warisnya susah dicari, maka kita sedekah senilai harta yang kita ambil dengan niat agar pahalanya mengalir kepada orang itu. 


Semoga kita semua kelak menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam keadaan bersih dari dosa.


Amiin..


Wallahu a'lam.


✍️ Perumahan Bukit Asri Ciomas Bogor, Malam Ahad 23 Agustus 2025

@MuhammadMujianto


SUMBER KISAH:

https://youtu.be/j9LPJ6-pROM?si=BClzv0NesOgNW5-v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar