✍️ Catatan Akhir Pekan
📒HATI2 PENIPUAN❗
Pada tahun 2010-an, saya dan beberapa orang kawan berencana untuk menerbitkan sebuah buku. Setelah saya hitung-hitung, ternyata butuh dana lumayan besar, sekitar Rp. 20 juta untuk bisa mencetak satu judul buku.
Kenapa bisa segitu besar?
Sebab, waktu itu, untuk bisa dapat ongkos cetak murah perbukunya, minimal kita harus cetak perjudul sebanyak 3000 eksemplar. Kalau cetak cuma sedikit, ongkos cetak perbuku jadi mahal. Sehingga nanti harga jual buku jadi mahal juga. Kalau buku dijual mahal, tentu sulit untuk lakunya nanti.
Alhamdullillah, sekarang sudah ada digital printing, sehingga kita bisa cetak buku sedikit dengan ongkos cetak yang tidak terlalu mahal.
Kembali ke cerita tadi...
Saya pun kemudian menawarkan ke beberapa teman untuk jadi investor. Akad kerjasamanya berbentuk mudhorobah (bagi hasil). Kalau untung dibagi bersama, dan kalau rugi pun ditanggung bersama.
Waktu itu ada seorang teman yang punya cukup banyak uang nganggur. Sebut saja namanya Kumbang.
Saya tawarkan ke kumbang untuk jadi investor. Awalnya dia minat. Tapi dia ingin minta penjelasan rinci terkait bisnis yang akan saya jalankan. Dia minta penjelasan tentang perkiraan keuntungan kedepannya.
Saya pun siapkan penjelasan yang dia butuhkan. Di whiteboard sudah saya tulis apa yang akan saya jelaskan. Saya siap untuk memberikan penjelasan yang dibutuhkan.
Tapi, setelah beberapa hari menunggu, Si Kumbang tak kunjung datang. Dugaan saya, dia masih ragu dengan kerjasama yg saya tawarkan. Dan saya pun nemakluminya. Sebab memang, kalau orang tidak siap rugi, berat baginya untuk diajak kerjasama menggunakan sistem mudhorobah ini.
Beberapa hari kemudian, Kumbang memberi kabar bahwa dia tidak jadi memberi bantuan dana. Dan ternyata dia lebih memilih jadi investor untuk usaha yang dijalankan oleh orang lain. Sebut saja namanya Tawon.
Kenapa Kumbang lebih memilih kerjasama dengan Tawon dibanding saya?
Kurang lebih ceritanya begini...
Tawon mengaku punya bisnis pembuatan produk X. Dia bilang ke orang-orang kalau produknya ini sudah ada yang siap beli dalam jumlah besar. Maka, untuk menjalankan usahanya, dia mencari banyak orang untuk diajak kerjasamanya.
Bentuk kerjasamanya kurang lebih begini:
Tawon menjanjikan, bulan pertama uang investasi akan diberikan 50%. Bulan berikutnya, sisa uang investasi akan dikembalikan semua. Dan bulan berikutnya akan diberikan keuntungan.
Jadi dengan kata lain, investor dijanjikan: Pasti untung! Nggak akan pernah rugi!
Kalau ditinjau dari fikih muamalah, setahu saya, bentuk kerjasama seperti ini hukumnya haram. Sebab ini sama saja akad pinjaman yang menarik keuntungan. Dan ini adalah riba.
Ada kaidah yang disepakati oleh para ulama yang berbunyi:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا
“Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba.”
Jadi, tidak boleh misalnya kita meminjamkan uang dengan syarat dikembalikan berlebih. Beda kasus kalau misalnya kita meminjamkan uang, kemudian saat dikembalikan, orang yang kita pinjami uang memberi tambahan uang sebagai tanda terima kasih. Kalau ini boleh. Yang penting, tambahan ini tidak dipersyaratkan di awal.
Kalau kasus Si Tawon ini, dari awal dia sudah menjanjikan keuntungan kepada para investor. Dengan menyetujuinya, berarti sama saja investor meminjami uangnya, kemudian menarik keuntungan dari pinjaman ini.
Pada gelombang pertama, Tawon berhasil mendapatkan banyak investor. Namun, jumlah perorangnya masih tidak terlalu banyak. Mungkin, banyak yang masih ragu dengan kerjasama ini. Dalam hati mereka mungkin ada terselip pertanyaan:
"Beneran nggak nih?!".
Pada tahap awal, Tawon sukses meyakinkan banyak orang. Dia benar-benar memberi keuntungan kepada para investor. Kemudian, dibukalah investasi gelombang kedua.
Mungkin karena sudah merasa yakin, maka banyaklah yang kemudian menambah uang investasinya. Ada yang sampai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Termasuk Kumbang investasi cukup besar.
Namun, apa yang terjadi kemudian....
Ternyata usaha yang dijalankan Tawon ini bohong belaka. Menurut cerita dari seorang kawan saya yang juga ikut terlibat dalam bisnis ini, untuk meyakinkan orang, di awal Tawon puter dulu uang para investor. Jadi dia terus mencari investor. Uang investor yang baru, dipakai untuk mengembalikan uang investor yang lama plus memberi keuntungan.
Akhirnya, uang Kumbang dan para investor lain hilang entah kemana. Saya sendiri masih belum dapat berita yang jelas, dikemanakan uang ratusan juta oleh Si Tawon. Berita terakhir, dia berurusan dengan pihak kepolisian.
*****
💦MENGAMBIL PELAJARAN
Dari kejadian ini, kita bisa mengambil pelajaran sebagai berikut:
🌹PELAJARAN 1
Hendaknya kita bekali diri dengan ilmu. Terutama ilmu yang berkaitan dengan aktivitas yang kita lakukan sehari2. Agar dalam melangkah, kita dasari semuanya dengan ilmu. Sehingga kita tidak salah langkah.
Kalau kita bekerja sebagai pedagang, maka kita pelajari fikih perdagangan dalam Islam. Kalau kita bekerja sebagai karyawan, maka kita pelajari juga ilmu yang berkaitan dengannya.
🌹PELAJARAN 2
Kalau kita jadi investor, ya kita harus siap rugi. Sebab, yang namanya usaha, tentu ada kemungkinan untung dan rugi.
Terkadang, kita sudah yakin akan dapat untung, tapi ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala berkehendak lain.
Guru saya pernah bilang, "Kalau kita tidak siap rugi, ya jangan investasi. Lebih baik kita kerja dengan orang, jadi karyawan, jelas dapat gaji..".
🌹PELAJARAN 3
Kalau kita kerjasama dengan orang (misalnya kerjasama bentuk bagi hasil), hendaknya kita buat akad yang jelas. Ada hitam di atas putih.
Kemudian, bentuk kerjasamanya juga harus jelas dibidang apa. Bukti2 usahanya pun harus dijelaskan. Sertakan foto2 kegiatan usahanya.
Kemudian, laporan keuangannya juga harus jelas. Tidak cuma modal kepercayaan.
Semuanya harus dijalani dengan profesional. Meskipun yang kita ajak kerjasama adalah seorang ustadz. Sebab, ustadz juga manusia biasa yang bisa berbuat salah.
🌹PELAJARAN 4
Hendaknya kita berhati-hati dalam melakukan kerjasama usaha dengan orang lain. Sebab zaman sekarang, cara-cara menipu semakin banyak bervariasi.
Saya kasih contoh satu lagi cara menipu untuk diambil pelajarannya.
Misalnya, ada orang yang ingin buka usaha restoran. Dia bilang ke teman-teman dekat yang sudah sangat percaya dengan dia.
"Saya mau buka restoran nih, butuh dana 100 juta rupiah. Saya ada dana 25 juta dan istri saya 25 juta. Siapa yang mau investasi? Keuntungan dibagi dua..."
Padahal dia tidak punya uang sebanyak itu. Istrinya pun sebenarnya tidak ikut-ikutan. Dia bilang begitu supaya nanti kala pas bagi-bagi keuntungan, dia dapat bagian banyak.
Naah....
Demikian.
Semoga kita selamat dari segala bentuk kejahatan.
Amiin..
Wallahu a'lam.
✍️ Perumahan Bukit Asri Bogor, Malam Sabtu 22 Agustus 2025
@MuhammadMujianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar