Kamis, 29 Oktober 2026

KARENA KITA MERASA JADI SIAPA-SIAPA

 


🤲 YA ALLAH, LAPANGKANLAH DADAKU.... (1)


✍️BAB 1: KARENA KITA MERASA JADI SIAPA-SIAPA



"Hidup kita akan tenang jika kita menganggap diri kita bukan siapa-siapa di hadapan orang-orang.”


Kalimat ini lahir bukan secara tiba-tiba. Tapi dari hasil perjalanan hidup saya selama ini.


Mungkin kalimat ini terkesan biasa. Tapi terus terang saya merasa, di situlah letak kesempitan dada bagi kebanyakan orang. Termasuk diri saya sendiri.


Coba kita periksa...


❓Kenapa kita sakit hati saat tidak disapa?


❓Kenapa kita marah saat pendapat kita tidak didengar di grup WhatsApp? 


❓Kenapa kita gelisah saat postingan kita sepi like? 


❓Kenapa kita tidak bisa tidur semalaman hanya karena satu orang merendahkan kita?


Jawabannya satu: karena diam-diam kita merasa kita adalah "siapa-siapa" . Kita merasa penting. Kita merasa harus dihormati, harus dianggap, harus dipuji.


Padahal, ketenangan itu datang bukan saat kita dianggap siapa-siapa, tapi saat kita sadar bahwa kita memang bukan siapa-siapa.


🌸🌸🌸


☕Penyakit Ingin Terlihat Hebat

Cinta kedudukan di hati manusia adalah sebuah penyakit. Namun ini adalah penyakit yang sangat halus. Tidak terlihat seperti dosa besar, tapi ia yang menggerogoti dada setiap hari.


Orang yang hatinya dipenuhi keinginan untuk dianggap "siapa-siapa"  oleh orang-orang akan hidup dengan sangat lelah. Ia harus selalu memastikan:


✅Bajunya terlihat mahal.

✅Omongannya terlihat pintar.

✅Ibadahnya terlihat khusyuk.

✅Keluarganya terlihat bahagia.

✅Pengikutnya terlihat banyak.


Ia hidup bukan untuk Allah, tapi untuk penilaian manusia. Dan penilaian manusia itu tidak akan pernah ada habisnya. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini dielu-elukan, besok digibahi.


Maka, kalau dada kita ingin lapang, jangan pernah merasa diri kita ini "siapa-siapa" di hadapan orang orang.  Biasa-biasa saja. Kita sama2 makhluk yang lemah di hadapan Allah. Kita sama2 sedang berusaha mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Lihat! 


Tanaman itu tumbuh subur jika disiram terus. Begitu juga kegelisahan di dada kita. Semakin kita siram dengan keinginan untuk terlihat hebat, terlihat pintar, terlihat banyak wawasan, maka akan  semakin subur kesempitan itu.



☕Kisah Seorang Tukang Sol Sepatu

Saya pernah dapat cerita tentang tukang sol sepatu. Dulunya dia kaya raya. Punya bawahan yang bekerja kepadanya. 


Namun, dia tinggalkan semua kekayaannya. Dia memilih untuk menjadi tukang sol sepatu yang miskin.


Suatu hari, ada orang yang bertanya: "Bukankah dulu engkau kaya raya? Tidakkah engkau bersedih kehilangan semua itu?"


Dia tersenyum dan berkata: "Justru sekarang dadaku paling lapang. Dulu saat kaya, aku harus memikirkan apa kata orang-orang di sekitarku. Aku harus terlihat gagah, terlihat berwibawa. Sekarang, aku bukan siapa-siapa. Tidak ada yang mengenalku. Tidak ada yang menuntutku untuk terlihat hebat. Dan di situlah aku menemukan Allah."


Itulah ketenangan. Ketenangan bukan didapat saat semua orang mengenal kita, tapi saat kita tidak butuh dikenal oleh siapapun kecuali Allah.


☕Rumus Langit Agar Dada Lapang

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajarkan rumusnya di dalam Al-Qur'an:


*إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ*


"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)


Allah tidak bilang yang paling mulia adalah yang paling banyak followernya. Yang paling banyak gelarnya. Yang paling besar omzetnya.


Allah bilang: yang paling bertakwa.

Artinya, kemuliaan itu vertikal, bukan horizontal. Bukan soal penilaian manusia ke manusia, tapi penilaian Allah ke manusia.


Kalau kita sudah paham ini, kita akan berhenti mengejar kemuliaan horizontal yang melelahkan itu.


*Orang yang tawadhu itu seperti bintang di langit. Ia terlihat kecil dari bumi, tapi sebenarnya ia besar di langit. Begitulah orang yang menganggap dirinya bukan siapa-siapa di mata manusia, ia justru menjadi istimewa di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala.*


☕Amalan Praktis: Melatih Diri Menjadi Bukan Siapa-Siapa

Teori tanpa amalan hanya akan menjadi wacana. Mari kita latihan. 


Ada 4 latihan harian agar dada kita lapang:


1️⃣Pertama: Sengaja Tidak Menceritakan Kebaikan kita.

Hari ini, jika kita bersedekah, jangan ceritakan. Jika kita membantu orang, diamkan. Biar hanya Allah yang tahu. Rasakan kelegaan saat kebaikan kita tidak diketahui manusia. Itu melatih keikhlasan.


2️⃣Kedua: Dahulukan Orang Lain.

Saat antri, dahulukan orang di belakang kita. Saat rapat, biarkan orang lain berbicara dulu. Latihan ini mematikan ego yang ingin selalu di depan.


3️⃣Ketiga: Ucapkan Ini Saat Dipuji.

Setiap ada yang memuji, langsung di dalam hati ucapkan:


 "Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang mereka tidak ketahui, dan jangan Engkau hukum aku karena pujian mereka."


Sebab, orang memuji kita karena amalan kita yang nampak. Kalau mereka tahu keburukan yang ada pada kita, niscaya mereka tidak di akan mau memuji kita. Bahkan mungkin akan pergi meninggalkan kita.


4️⃣Keempat: Perbanyak Sujud.

Sujud adalah posisi paling merendahkan diri. Saat itulah kita paling dekat dengan Allah. Saat dada sempit, jangan curhat di status. Ambil wudhu, sujud yang lama. Katakan: "Ya Allah, aku bukan siapa-siapa tanpa-Mu."


🌸🌸🌸


Lapang dada itu bukan berarti hidup tanpa masalah. Masalah akan tetap ada. Rezeki seret akan tetap ada. Orang yang menyakiti akan tetap ada.


Tapi orang yang menganggap dirinya bukan siapa-siapa, ia tidak akan menyimpan masalah itu di dalam dadanya terlalu lama. Ia akan cepat berkata:


 "Sudahlah, aku bukan siapa-siapa. Biar Allah yang urus."


Dan saat itulah, Allah benar-benar akan mengurusnya. Insya Allah.


Maka hari ini, mari kita belajar satu kalimat sakti penenang hati:


"Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya hamba Allah yang ingin pulang dengan selamat."


Kita bisa ucapkan kalimat ini setiap kali dada mulai terasa sempit karena manusia. Insya Allah, dada itu akan kembali lapang.


Wallahu a'lam. 



✍️ Ciomas Bogor, Rabu 28 Oktober 2026

@MuhammadMujianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar