Selasa, 19 April 2022

AKU & BAHASA ARAB (BAB 46): JANGAN MENYERAH! (SELESAI)

 


BAB 46

JANGAN PERNAH MENYERAH!


Banyak hal sebenarnya yang belum saya ceritakan terkait interaksi saya dengan bahasa Arab. Namun saya rasa, apa yang saya sampaikan ini sudah cukup. Takutnya malah nanti jadi kepanjangan kalau diceritakan semuanya.


Sebelum saya tutup, saya ingin sampaikan bahwa cara terbaik untuk bisa bahasa Arab adalah dengan belajar di pondok pesantren. Minimal setahun kita fokus belajar bahasa Arab di sana. Ini cara yang paling efektif menurut saya. Lebih bagus lagi kalau kita bisa belajar langsung di negara Arab.


Kalau tidak bisa,

AKU & BAHASA ARAB (BAB 45): BELAJAR SAMPAI MATI

 


BAB 45

BELAJAR SAMPAI MATI



Tiada kata “berhenti” untuk belajar. Meskipun kita sudah tidak sekolah lagi, kita tetap harus terus belajar. Terutama belajar ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada suatu hari, ada orang yang melihat Imam Ahmad rahimahullah sedang berjalan sambil membawa wadah tinta. Dia pun heran dan menanyakan alasannya.

Imam Ahmad rahimahullah menjawab:

AKU & BAHASA ARAB (BAB 44): MENULIS 100 BUKU

 


BAB 44

MENULIS 100 BUKU



Sebelum fokus menulis buku-buku pelajaran bahasa Arab, saya pernah juga menulis beberapa buku. Tema buku seputar motivasi agama dan motivasi umum. Sebagian buku sudah pernah diterbitkan oleh beberapa penerbit.

Waktu itu, saya sempat punya keinginan untuk menulis minimal 50 buku selama hidup di dunia ini. Harapan saya, semoga buku-buku itu nanti bisa menjadi amal jariyah bagi saya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

AKU & BAHASA ARAB (BAB 43): KABARNAS 3 (6)

 


BAB 43

KABARNAS 3 (6)



Ilmu itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tanpa pertolongan dari-Nya, kita tidak akan pernah mendapatkan ilmu. Sehebat apapun usaha yang kita lakukan.

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dimudahkan dalam belajar. Tentunya sambil kita terus berusaha mencari ilmu dengan cara-cara dan strategi yang tepat.


*****


Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya,

AKU & BAHASA ARAB (BAB 42): KABARNAS 3 (5)

 


BAB 42

KABARNAS 3 (5)



Setahu saya dulu, keterampilan bahasa yang fokus diajarkan di pondok-pondok pesantren adalah keterampilan membaca. Percakapan tidak terlalu ditekankan. Makanya tidak heran kalau banyak lulusan pesantren tidak lancar ngomong Arab. Padahal baca kitabnya jago.

Kasusnya mirip dengan bahasa Inggris di sekolah-sekolah. Bertahun-tahun siswa belajar bahasa Inggris, dari SMP hingga SMA. Bahkan di kampus pun belajar. Namun, sedikit yang bisa lancar ngomong Inggris. Kebanyakannya tidak bisa.

Kenapa ini bisa terjadi?

Senin, 18 April 2022

AKU & BAHASA ARAB (BAB 41): KABARNAS 3 (4)

 


BAB 41

KABARNAS 3 (4)



Peserta KABARNAS 3 berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ada yang dari Malaysia. Usianya pun beragam. Ada yang masih 20-an tahun, dan ada yang sudah 70 tahun lebih.

Saya sudah agak lupa, berapa jumlah total peserta. Kalau tidak salah, sekitar 13 atau 14 orang. Semuanya laki-laki. Namun, di akhir pelatihan, tersisa 11 orang.

Peserta berasal dari berbagai latar belakang profesi. Ada pelajar, pebisnis, ustadz, dan dosen. Sebagian belum menikah, dan sebagiannya lagi sudah. Ada dua orang peserta yang memiliki tiga orang istri.

Kebanyakan peserta sudah pernah belajar bahasa Arab, meskipun baru tingkat dasar. Namun, ada juga yang dari nol, sama sekali belum pernah belajar bahasa Arab.

*****

KABARNAS 3 terdiri dari

AKU & BAHASA ARAB (BAB 40): KABARNAS 3 (3)

 


BAB 40

KABARNAS 3 (3)



Sebelum memutuskan untuk ikut KABARNAS, saya ngobrol dulu dengan istri. Saya bilang ke dia kalau saya ingin ikut training bahasa Arab selama dua bulan. Alhamdulillah, istri saya mendukung. Bahkan, dia menawarkan uang tabungannya untuk digunakan jika diperlukan.

Info KABARNAS sudah saya dapat sejak beberapa bulan sebelum waktu pelaksanaan. Kalau tidak salah, sekitar dua bulanan. Sehingga masih cukup waktu bagi saya untuk mencari uang untuk bekal ikut pelatihan.


Sebenarnya, kalau mau dipaksakan, uang untuk ikut pelatihan ada. Cuma waktu itu, saya juga harus pikirkan yang lain. Saya harus persiapkan uang untuk perpanjang kontrak rumah dan kantor. Saya juga harus persiapkan gaji karyawan. Kemudian, saya juga harus siapkan uang belanja istri selama saya tinggalkan.

Akhirnya,