Selasa, 17 Januari 2017

MEMAHAMI DO’A ISTIFTAH





Agar shalat kita bertambah khusyuk, mari kita fahami do’a istiftah berikut…

>>> LAFAZH DO’A (TANPA HAROKAT)

اللهم باعد بيني و بين خطاياي كما باعدت بين المشرق و المغرب، اللهم نقني من خطاياي كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، اللهم اغسلني من خطاياي بالماء و الثلج و البرد

>>> LAFAZH DO’A (BERHAROKAT)

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَ بَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَ الثَّلْجِ وَ الْبَرَدِ

>>> TERJEMAH PERKATA


اَللَّهُمَّ
Ya Allah
بَاعِدْ
Jauhkanlah
بَيْنِ
Antara
ي
Aku
وَ
Dan
بَيْنَ
Antara
خَطَايَا
Kesalahan-kesalahan
يَ
Aku
كَ
Seperti
مَا
(Tidak diterjemahkan/Huruf mashdariyah)
بَاعَدْتَ
Engkau jauhkan
بَيْنَ
Antara
الْمَشْرِقِ
Timur
وَ
Dan
الْمَغْرِبِ،
Barat
اَللَّهُمَّ
Ya Allah
نَقِّ
Bersihkanlah
نِ
(Tidak diterjemahkan/Huruf nun wiqoyah)
ي
Aku
مِنْ
Dari
خَطَايَا
Kesalahan-kesalahan
يَ
Aku
كَ
Seperti
مَا
(Tidak diterjemahkan/Huruf mashdariyah)
يُنَقَّى
Dibersihkan
الثَّوْبُ
Baju
الْأَبْيَضُ
Putih
مِنَ
Dari
الدَّنَسِ،
Kotoran
اَللَّهُمَّ
Ya Allah
اغْسِلْ
Cucilah
نِ
(Tidak diterjemahkan/Huruf nun wiqoyah)
ي
Aku
مِنْ
Dari
خَطَايَا
Kesalahan-kesalahan
يَ
Aku
 بِ
Dengan
الْمَاءِ
Air
وَ
Dan
الثَّلْجِ
Salju
وَ
Dan
الْبَرَدِ
Butiran es

>>> FAIDAH SEPUTAR BAHASA
1.      Lafazh “اَللَّهُمَّ” berasal dari lafazh “يا الله”. Huruf MIM yang bertasydid (مّ) adalah pengganti huruf YA NIDA (يا) yang dibuang. Huruf MIM diberi tasydid untuk menunjukkan bahwa kata yang dihapus berjumlah dua huruf. Wallahu a’lam.
2.      Alasan dibuangnya huruf YA NIDA (يا) dari lafazh YA ALLAH (يا الله) minimal ada tiga: Untuk meringankan ucapan, mencari berkah dengan didahulukannya lafzah Allah, dan untuk pengagungan. Wallahu a’lam.
3.       Huruf MAA (ما) pada kata KAMAA (كما) adalah huruf mashdar. Dia bisa bergabung dengan kata setelahnya menjadi mashdar sharih. Sehingga kalimatnya bisa menjadi: Kamubaa’adatika (كمباعدتك).
4.      Jika bersambung dengan ISIM yang berakhiran alif, maka dhomir YA MUTAKALLIM diberi harokat FATHAH. Contohnya: “خَطَايَايَ” (Dosa-dosaku), “عَصَايَ” (Tongkatku), “مُدَرِّسَايَ” (Dua guruku), dll.


>>> FAIDAH TAMBAHAN

>>> FAIDAH PERTAMA
Do’a ini disebut DO’A ISTIFTAH (PEMBUKAAN) karena sholat dibuka dan dimulai dengan membaca do’a ini, setelah melakukan takbiratul ihram. ISTIFTAH (استفتاح) adalah mashdar dari ISTAFTAHA (استفتح) yang artinya “mulai” atau “membuka”. Do’a ini dikenal juga dengan nama DO’A IFTITAH.


>>> FAIDAH KEDUA
Membaca do’a istiftah dalam shalat hukumnya sunnah, tidak wajib. Shalat tetap sah jika tanpa membacanya, baik sengaja maupun lupa.

>> FAIDAH KETIGA
Do’a istiftah yang shahih jumlahnya cukup banyak. Kita bisa membacanya secara bergantian. Adapun yang disebutkan di atas adalah riwayat Al-Bukhari (No. 744) dan Muslim (No. 598). Lihat do’a istiftah lainnya di buku-buku kumpulan do’a.


>> FAIDAH KEEMPAT
Para ulama memberikan penjelasan yang bervariasi terkait do’a ini. Intinya lewat do’a ini kita meminta tiga hal:

Pertama, kita minta dijauhkan dari dosa dengan sejauh-jauhnya, sebagaimana jauhnya timur dan barat yang mustahil untuk bisa bertemu.

Kedua, jika kita terlanjur berbuat dosa, maka kita minta untuk dibersihkan dari dosa itu agar diri kita bersih kembali, seperti baju putih yang dibersihkan dari noda.

Ketiga, agar diri kita benar-benar bersih dari dosa dan pengaruh buruk yang ditimbulkannya, maka kita minta untuk dicuci diri kita dari dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Kita minta dibersihkan dosa-dosa kita dengan sebersih-bersihnya, sebagaimana baju yang akan menjadi sangat bersih jika dicuci berulang-ulang menggunakan air, salju, dan butiran es.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
Jadi, makna yang nampak: bahwa kalimat pertama berisikan tentang “permohonan penjauhan”, yaitu agar saya tidak melakukan kesalahan, kemudian jika saya terlanjur melakukannya, maka sucikanlah, lalu hilangkanlah dampak buruknya dengan tambahan pensucian, dengan air, salju, dan butiran es.
Tidak diragukan lagi, bahwa air adalah sesuatu yang mensucikan, namun salju dan butiran-butiran es sisi korelasinya adalah bahwa dosa dampak buruknya adalah adzab di Neraka, sedangkan api Neraka panas, dan sesuatu yang dingin sangat cocok untuk membersihkan sesuatu yang panas. Di dalam Air terdapat fungsi pembersihan, sedangkan di dalam salju dan butiran es ada fungsi mendinginkan” (Syarhul Mumti’, sebagaimana dikuti dari http://muslim.or.id/25849-rahasia-keindahan-doa-istiftah-3.html)

>> FAIDAH KEEMPAT
Konsekuensi dari kita mengucapkan do’a ini adalah:

Pertama, kita menjauh dari segala perbuatan dosa. Bahkan kalau mau aman, kita harus menjauh dari segala wasilah yang berpotensi untuk menjerumuskan kita ke dalam perbuatan dosa.

Kedua, jika terlanjur berbuat dosa, maka kita harus segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang nashuha.  

Ketiga, agar diri kita benar-benar bersih dari dosa dan dampak buruknya, maka kita harus perbanyak istighfar. Kita mohon ampun terus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim, no. 2702 (41))


>> FAIDAH KELIMA
Agar lebih jelas dalam memahami konsekuensi do’a ini, barangkali bisa kita permisalkan dengan baju putih. Agar baju putih kita tetap bersih, maka yang pertama kali harus kita lakukan adalah kita menjauhi tempat-tempat kotor dan segala aktifitas yang bisa menimbulkan kekotoran.

Jika kotoran terlanjur menempel di baju, maka segera kita hilangkan agar baju putih  bisa kembali suci. Kemudian, agar baju tetap bersih, kita harus sering mencucinya.

>> FAIDAH KEENAM
Al-Kirmani berkata –sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani dalam Fathul Bari (2/286)-: “Dimungkinkan juga maksud dari tiga do’a ini adalah isyarat kepada tiga waktu: Dijauhkan dari dosa yang akan datang, disucikan dari dosa di waktu sekarang, dan dicuci dari dosa yang telah lampau.”. (Ithaful Muslim hal. 192). Wallahu a’lam.


>>> TUGAS MANDIRI

Mulai sekarang, marilah kita baca do’a ini dengan penuh penghayatan. Kita resapi makna yang terkandung di dalamnya. Semoga dengan begitu, shalat kita jadi bertambah khusyuk.


Wallaahu a’lam bish shawaab.

Bogor, Selasa pagi 10/1/2017
Muhammad Mujianto al-Batawie


>>> BAHAN BACAAN:
1.      Ithaaful Muslim bi Syarh Hisnil Muslim karya DR. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dan Usamah bin Abdil Fattah al-Mishri.
2.      Fathul ‘Aliim fi Syarh Ad’iyyah wa Adzkaar As-Shalah minat Takbir ilat Taslim karya Husain bin Audah Al-Awayisah.
3.      Adzkaarut Thahaarah wash Shalaah karya Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Badr.
4.      Kumpulan Do’a dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
7.      Dll.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar